Pemprov Jateng Gandeng PHRI Perkuat Sektor Pariwisata dan Investasi

Pemprov Jateng gandeng PHRI perkuat pariwisata, sektor hotel dan restoran dorong pertumbuhan ekonomi dan investasi daerah.

Pemprov Jateng Gandeng PHRI Perkuat Sektor Pariwisata dan Investasi
Pemprov Jateng gandeng PHRI perkuat pariwisata, sektor hotel dan restoran dorong pertumbuhan ekonomi dan investasi daerah.

KONTENSEMARANG.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat sinergi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) guna mendorong akselerasi sektor pariwisata. Kolaborasi ini dipandang strategis karena industri perhotelan dan restoran memiliki dampak berantai terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum tercatat terus menunjukkan tren positif dalam kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah. Pada 2023, kontribusi sektor ini berada di angka 3,41 persen, lalu meningkat menjadi 3,74 persen pada 2025. Kenaikan tersebut memperlihatkan peran penting sektor hospitality dalam menopang ekonomi, termasuk perdagangan, transportasi, UMKM, hingga penciptaan lapangan kerja.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, penguatan sektor hotel dan restoran menjadi bagian penting dari arah pembangunan daerah, terlebih pariwisata akan menjadi fokus utama Jawa Tengah pada 2027 mendatang.

"Ini adalah tantangan dan pekerjaan rumah bagi rekan-rekan sekalian. Bagaimana agar investasi, khususnya di sektor hotel dan restoran ini menjadi yang utama," kata Luthfi saat membuka Rakornas I PHRI di Hotel PO, Kota Semarang, Selasa, 10 Februari 2026.

Menurutnya, Jawa Tengah memiliki potensi besar yang perlu dioptimalkan bersama. Saat ini terdapat sekitar 1.000 desa wisata yang tersebar di 35 kabupaten/kota. Selain itu, pengembangan destinasi baru terus didorong, termasuk wisata ramah muslim yang menuntut jaminan halal pada layanan makanan dan minuman.

Konsep aglomerasi wisata juga tengah dikembangkan, mencakup kawasan Borobudur, Kopeng, dan Rawa Pening. Model ini diharapkan mampu menciptakan daya tarik terpadu dan memperpanjang lama tinggal wisatawan.

"Tentu ini perlu tugas-tugas kolaboratif, termasuk dengan Bapak-ibu (anggota PHRI) di sini," ujarnya.

Sebagai contoh, konsep aglomerasi telah diterapkan oleh tujuh kabupaten/kota di Soloraya melalui program Soloraya Great Sale 2025. Hasilnya, total transaksi lintas sektor mencapai Rp10,7 triliun dalam satu bulan, dengan tingkat okupansi hotel dan penginapan yang penuh sepanjang periode tersebut.

"Ini yang coba kami ciptakan dan mungkin menjadi gambaran dan dasar dalam menyukseskan pembangunan nasional," katanya.

Rakornas I PHRI juga dihadiri Menteri Pariwisata Widiyanti Wardhana, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, serta sejumlah tokoh termasuk Ketua Kadin.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pariwisata Widiyanti Wardhana mengungkapkan bahwa sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum mencatat laju pertumbuhan sebesar 7,41 persen. Sektor ini turut menyumbang 0,24 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025.

"Kami optimistis, kontribusi pariwisata terhadap PDB akan terus meningkat dan mendukung pencapaian target yang telah ditetapkan. Apresiasi kami kepada pelaku usaha hotel dan restoran atas dukungannya untuk mengembangkan pariwisata Indonesia dan mendorong pertumbuhan ekonomi," katanya.

Dengan kolaborasi yang diperkuat antara pemerintah daerah dan pelaku usaha, sektor pariwisata Jawa Tengah diharapkan mampu tumbuh lebih kompetitif serta memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.