Konten Semarang
Regional

Ahmad Luthfi Jadikan Demak dan Kabupaten Semarang Role Model Stunting Jateng

Ahmad Luthfi menjadikan Demak dan Kabupaten Semarang sebagai role model penanganan stunting untuk daerah lain di Jawa Tengah.

Ahmad Luthfi Jadikan Demak dan Kabupaten Semarang Role Model Stunting Jateng
Ahmad Luthfi Jadikan Demak dan Kabupaten Semarang Role Model Stunting Jateng

KONTENSEMARANG.COM — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendorong Kabupaten Demak dan Kabupaten Semarang menjadi contoh dalam upaya percepatan penanganan tengkes atau stunting di Jawa Tengah.

Kedua daerah tersebut dinilai berhasil menekan prevalensi stunting hingga berada di kisaran dua persen. Praktik baik yang diterapkan di Demak dan Kabupaten Semarang nantinya diharapkan dapat diterapkan di daerah lain sesuai dengan kondisi masing-masing.

Hal tersebut disampaikan Ahmad Luthfi dalam Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara di Hotel Novotel, Kota Semarang, Selasa, 22 September 2026.

Data triwulan II 2026 menunjukkan prevalensi stunting Jawa Tengah berada di angka 9,93 persen. Meski terus mengalami penurunan sejak 2024, persoalan disparitas antarwilayah masih menjadi perhatian.

Sejumlah daerah masih mencatat angka prevalensi cukup tinggi, seperti Wonosobo 18,05 persen, Purworejo 16,62 persen, Banjarnegara 16,24 persen, Kabupaten Magelang 15,82 persen, dan Kabupaten Tegal 15,59 persen. Di sisi lain, Demak dan Kabupaten Semarang telah mencapai angka sekitar dua persen.

Atas kondisi tersebut, Luthfi meminta perangkat daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota mempelajari langkah yang telah dilakukan kedua daerah tersebut untuk kemudian disesuaikan dengan kebutuhan wilayah masing-masing.

“Seluruh daerah saya minta agar belajar dengan Demak dan Semarang," katanya.

Luthfi menekankan bahwa penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh tingkatan pemerintahan. Upaya tersebut harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa sesuai dengan kewenangan masing-masing.

Menurut dia, tingginya angka stunting di sejumlah daerah dipengaruhi berbagai faktor. Beberapa di antaranya berkaitan dengan persoalan gizi, kondisi lingkungan, kebersihan, serta pola hidup masyarakat.

Karena itu, daerah dengan prevalensi stunting tinggi diminta melakukan pendataan secara akurat. Data yang valid diperlukan agar intervensi yang diberikan dapat menyasar kelompok yang tepat dan dilakukan secara berkelanjutan.

Baca Juga Otomatis

Rekomendasi berdasarkan kategori dan tag berita ini.

Halaman 1 dari 2

Artikel Selanjutnya

Pameran MTQ Nasional di Jateng Raup Transaksi Rp2,4 Miliar, UMKM Kian Berkembang
Regional • 22 September 2026

Pameran MTQ Nasional di Jateng Raup Transaksi Rp2,4 Miliar, UMKM Kian Berkembang

Rekomendasi Redaksi