KEK dan Kawasan Industri Sumbang 1,87 Persen PDRB Jawa Tengah 2025

KEK dan Kawasan Industri sumbang 1,87% PDRB Jateng 2025. BPS siapkan Sensus Ekonomi 2026 untuk petakan daya saing usaha.

KEK dan Kawasan Industri Sumbang 1,87 Persen PDRB Jawa Tengah 2025
KEK dan Kawasan Industri Sumbang 1,87 Persen PDRB Jawa Tengah 2025

KONTENSEMARANG.COM - Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada 2025 yang mencapai 5,37 persen tidak terlepas dari peran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri (KI) yang tersebar di sejumlah daerah. Ratusan perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut menjadi motor penggerak aktivitas produksi dan investasi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Ali Said, menjelaskan bahwa KEK dan KI menyumbang 1,87 persen terhadap total pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah. Kontribusi itu terdiri atas 0,98 persen dari KEK dengan nilai Rp4,86 triliun serta 0,89 persen dari KI atau sekitar Rp4,43 triliun.

Selain itu, dampaknya juga signifikan terhadap sektor industri pengolahan. Dari total kontribusi industri pengolahan sebesar 33,38 persen terhadap perekonomian Jawa Tengah pada 2025, KEK dan KI menyumbang 3,70 persen. Rinciannya, 2,33 persen berasal dari KEK senilai Rp3,86 triliun dan 1,37 persen dari KI dengan nilai Rp2,26 triliun.

"Itu lumayan besar terhadap perekonomian. Ini baru yang sudah beroperasi. Ada juga yang belum beroperasi secara penuh sehingga ke depannya saya kira akan lebih besar lagi," kata Ali disela audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Semarang, Rabu, 11 Februari 2026.

Data BPS pada triwulan IV-2025 mencatat, terdapat 109 perusahaan di KEK Kendal dan 48 perusahaan di KEK Indutropilolis Batang. Di Kota Semarang, 47 perusahaan beroperasi di Kawasan Industri Candi, 31 perusahaan di Kawasan Industri Terboyo, serta 24 perusahaan di Kawasan Industri Wijayakusuma. Selain itu, terdapat 17 perusahaan di Bukit Semarang Baru (BSB) Industrial Park, 12 perusahaan di Jateng Land Park Sayung Demak, lima perusahaan di Batang Industrial Park, serta tiga perusahaan di kawasan lainnya seperti Kawasan Industri Cipta dan LIK Bugangan Baru Semarang.

" Kami akan data secara rutin setiap triwulan untuk mendukung PDRB Jawa Tengah," kata Ali.

Dalam pertemuan tersebut, BPS juga menyampaikan rencana pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang dijadwalkan pada Mei hingga Juli. Sensus ini akan memetakan daya saing usaha, kondisi perekonomian wilayah, perkembangan ekonomi hijau dan ekonomi lingkungan, hingga kontribusi UMKM.

"Ada juga persoalan yang dihadapi dunia usaha. Itu beberapa isu yang akan dilakukan dalam sensus ekonomi 2026," jelasnya.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi selama ini mendorong kabupaten dan kota untuk menyiapkan kawasan ekonomi maupun kawasan industri baru guna memperluas peluang investasi. Sejumlah daerah seperti Cilacap, Kebumen, Banyumas, Brebes, Batang, Kendal, Demak, Semarang, dan Rembang telah merespons dengan menyiapkan potensi kawasan baru.

"Potensinya besar dan banyak yang harus di kerjakan. Adanya kawasan ekonomi dan kawasan industri akan memudahkan untuk investasi, sehingga dapat mendorong perekonomian," kata Ahmad Luthfi beberapa waktu lalu.

Terkait Sensus Ekonomi 2026, Ahmad Luthfi menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mendukung penuh pelaksanaannya. Ia akan menginstruksikan bupati dan wali kota serta mengajak pelaku usaha agar terbuka dalam penyediaan data.

"Nanti kami akan kasih arahan kepada kabupaten/kota untuk mendukung penuh sensus ekonomi 2026," tandasnya.