Keterlibatan mereka diperlukan karena masyarakat memiliki hubungan langsung dengan lingkungan tempat tinggal dan aktivitas ekonominya.
Ia berharap warga tidak hanya ditempatkan sebagai penerima kebijakan, tetapi juga terlibat dalam menjaga kawasan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, upaya pencegahan karhutla dapat berjalan bersama dengan pengembangan kegiatan ekonomi yang memperhatikan kondisi lingkungan.
Kolaborasi Jadi Arah Penguatan Pengelolaan Gambut
Pengalaman militer, kegiatan teritorial, dan keterlibatan dalam penanganan kebakaran menjadi bagian dari bekal Mayjen TNI Sriyanto dalam menjalankan tugas baru di BPGMN.
Setelah resmi dilantik pada 15 Oktober 2026, ia mulai mendorong penguatan koordinasi lintas sektor untuk menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan.
Konsolidasi yang direncanakan berlangsung di Palembang pada 29–30 Oktober 2026 menjadi salah satu agenda untuk mempertemukan pemerintah, lembaga terkait, akademisi, dan sektor swasta.
Selain meningkatkan koordinasi, Sriyanto memberikan perhatian pada pengembangan teknologi yang mampu mengolah informasi lingkungan menjadi dasar analisis risiko kebakaran.
Upaya tersebut diharapkan mendukung pencegahan lebih awal, termasuk melalui pemantauan kondisi muka air gambut dan pemetaan kebutuhan pembasahan kawasan.
Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya menjaga hubungan antara perlindungan lingkungan dan penghidupan masyarakat.