Penyekatan Kanal Jadi Upaya Menjaga Gambut Tetap Basah
Kepala BPGMN, Prof. Satyawan Pudyatmoko, mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang membuat lahan gambut mudah terbakar adalah berkurangnya kandungan air akibat keberadaan kanal atau saluran pembuangan air.
Saluran tersebut dapat mempercepat keluarnya air dari kawasan gambut sehingga cadangan air di dalam tanah terus menurun. Kondisi ini membuat lahan mengering dan semakin rentan terbakar, terutama saat musim kemarau.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah akan melakukan pembasahan kembali melalui pembangunan sekat kanal. Infrastruktur ini berfungsi memperlambat aliran air sehingga kelembapan gambut dapat dipertahankan.
"Satu, dengan membuat sekat kanal. Jadi, saluran yang ada itu kita buat sekat agar airnya tidak mengalir secara deras, tapi tertahan di ekosistem gambut," kata Prof. Satyawan.
Selain membuat sekat, pemerintah juga menyiapkan penimbunan kanal yang berada di kawasan lindung. Langkah ini bertujuan menghentikan aliran air keluar secara berlebihan agar cadangan air di dalam ekosistem gambut tetap terjaga.
Satyawan menegaskan, pemulihan tata air menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan kebakaran. Lahan gambut yang memiliki kelembapan terjaga dinilai lebih mampu mengurangi risiko muncul dan meluasnya api.
Lahan Gambut Bekas Terbakar Diarahkan Menjadi Kawasan Produktif
Pencegahan karhutla tidak hanya dilakukan melalui perbaikan kondisi lingkungan, tetapi juga perlu memperhatikan aspek sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.
Menurut Prof. Satyawan, kawasan gambut yang terbengkalai dan berulang kali terbakar perlu dioptimalkan kembali melalui kegiatan produktif. Salah satu caranya dengan menanam komoditas yang mampu tumbuh dan beradaptasi di lingkungan lahan basah.