Meriahnya Dugderan Semarang Sambut Ramadan, Warga Antusias dan UMKM Bergairah
Meriahnya Dugderan 2026 di Semarang
KONTENSEMARANG.COM – Ribuan warga memadati halaman Masjid Agung Jawa Tengah saat Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menabuh beduk tujuh kali dari mimbar utama, Senin (16/2/2026).
Setiap dentuman beduk diiringi letusan meriam Kolontoko dan suara petasan yang menghiasi langit senja. Masyarakat yang hadir tampak antusias, tersenyum, serta mengabadikan momen tersebut dengan telepon genggam.
Penabuhan beduk menjadi puncak perayaan Dugderan 2026, tradisi khas Kota Semarang yang telah berlangsung sejak 1881 sebagai penanda dimulainya ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah.
Dalam balutan busana adat bangsawan Jawa, Sumarno berperan sebagai Kanjeng Adipati Raden Mas Tumenggung Prawiroprojo. Sebelum prosesi penabuhan, ia menerima Suhuf Halaqoh dari Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, yang berperan sebagai Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum.
Di hadapan ribuan warga, Sumarno membacakan Suhuf Halaqoh atau surat keputusan penetapan Ramadan dalam bahasa Jawa.
Bagi masyarakat, Dugderan bukan sekadar seremoni tahunan menjelang Ramadan. Tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Safira, warga Barito Semarang, mengaku hampir selalu mengikuti Dugderan setiap tahun. Ia menyebut suasana perayaan selalu meriah, terlebih dengan adanya pawai budaya dan pasar malam di kawasan Masjid Agung Kauman.
“Selalu happy kalau ada Dugderan, karena banyak makanan dan suka sama karnavalnya. Dulu juga sering naik wahana di Masjid Agung Kauman,” ujarnya.
Ia berharap tradisi tersebut terus dilestarikan sebagai warisan budaya Kota Semarang.
Hal serupa disampaikan pedagang asal Kabupaten Demak, Misbahul Munir. Ia merasakan dampak positif dari perayaan tersebut terhadap penjualan dagangannya.
“Ketika ada event, UMKM juga ikut jalan. Ini sangat membantu kami para penjual makanan dan minuman. Alhamdulillah hari ini lumayan laris,” katanya.
Pada Dugderan kali ini, Misbahul menjual berbagai minuman seperti es cappuccino, cincau, es buah, dan es kampul, serta aneka gorengan. Ia mengaku dagangannya laris sejak sore hari.
Sementara itu, Sumarno menegaskan, Dugderan merupakan hasil kolaborasi antara Pemprov Jawa Tengah dan Pemkot Semarang yang memiliki nilai sejarah dan budaya penting.
“Ini adalah kerja sama Pemprov Jateng dengan Pemkot Semarang, Dugderan ini menjadi tradisi yang mempunyai nilai yang perlu kita lestarikan,” ujarnya.
Melalui momentum Dugderan, ia mengajak umat Muslim mempersiapkan diri menyambut Ramadan dengan penuh kesiapan dan harapan akan keberkahan.
“Harapannya dapat meningkatkan ketakwaan kepada allah SWT, mudah-mudahan Jawa Tengah terhindar dari bencana, dan kesejahteraan masyarakat semakin baik,” tandasnya. (*)
redaksi